Syafa’at Agung Rasulullah
by. Ustadz Hafidz Al Musthafa, Lc
Muqaddimah
Di antara perkara penting yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah perkara hari Akhir, karena pentingnya perkara tersebut sehingga ia menjadi bagian dari rukun iman yang enam di mana tidak sempurna keimanan seseorang kecuali dengan mengimaninya. Bahkan iman kepada hari akhir senantiasa disandingkan penyebutannya dengan iman kepada Allah dalam banyak ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم, hal itu menunjukkan bahwa iman kepada Allah tidak bisa dipisahkan dengan iman kepada hari akhir sedikit pun. Maka dari itu hendaknya seseorang memiliki perhatian besar kepada hari akhir. Karena keimanan terhadap hari akhir membuahkan kebaikan yang begitu banyak. Di antara hal yang merupakan bagian dari iman kepada hari akhir adalah mengimani adanya syafa'at, terlebih lagi syafa'at agung yang menjadi keistimewaan Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Pengertian Syafa'at
1. Izin Allah
kepada pemberi syafa'at
Maksudnya tidak ada syafa'at kecuali bagi orang yang
telah diizinkan Allah untuk memberi syafa'at. Berdasarkan firman Allah عزّوجلّ:
وَلا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ
Dan tidaklah bermanfaat syafa'at itu di sisi Allah
kecuali bagi orang yang telah diizinkan. (QS Saba' [34]: 23)
Dan yang diberi izin untuk memberi syafa'at adalah para
nabi, rasul, dan hamba-hamba Allah yang shalih.
2. Ridha Allah kepada orang yang diberi syafa'at
Hal ini berdasarkan firman Allah عزّوجلّ:
وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى
Dan mereka (para pemberi syafa'at) tidaklah memberi
syafa'at kecuali kepada orang yang telah diridhai. (QS al-Anbiya' [21]:28)
Dan orang yang diridhai Allah untuk menerima syafa'at
adalah kaum mukminin yang bertauhid tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa
pun.
1.
Syafa'at
agung (asy-syafa'atul 'uzhma). Yaitu syafa'at yang menjadi
kekhususan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan tidak diberikan kepada selain
beliau. Yaitu pada saat semua makhluk berada dalam kondisi yang amat berat menunggu
proses pengadilan dari Allah Ta'ala di hari mahsyar. Dan akan datang keterangan
lebih lanjul tentang syafa'at ini.
2. Syafa'at
Nabi صلى الله عليه
وسلم untuk paman beliau Abu
Thalib agar diringankan siksanya. Syafa'at ini hanya khusus bagi Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم
dan hanya diberikan kepada paman beliau Abu Thalib. Tidak ada seorang kafir pun
yang memperoleh syafa'at dari beliau kecuali paman beliau Abu Thalib sebagaimana
terdapat dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika beliau صلى الله عليه وسلم
ditanya: "Wahai Rasulullah, apakah anda bisa memberi syafa'at kepada paman
anda?" Beliau menjawab: "Ya, dia berada di permukaan neraka, kalau
bukan karena syafa'atku maka ia akan berada di bagian neraka yang paling
dalam." (HR al-Bukhari: 3883 dan Muslim: 209)
3.
Syafa'at
beliau صلى الله عليه
وسلم untuk penghuni Surga
agar masuk ke dalamnya. Syafa'at ini juga merupakan kekhususan Nabi صلى الله عليه وسلم
sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau: "Aku adalah orang yang pertama
kali memasuki surga dan aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya."
(HR Muslim: 196)
4. Syafa'at
beliau صلى الله عليه
وسلم, untuk segolongan manusia
agar masuk surga tanpa hisab. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits panjang
bahwasanya Ukasyah رضي الله عنه pernah meminta kepada Rasul صلى الله عليه وسلم
untuk dido'akan supaya menjadi golongan yang masuk surga tanpa hisab, kemudian
beliau mendo'akan Ukasyah: "Ya Allah, jadikanlah Ukasyah termasuk ke dalam
golongan tersebut (yaitu golongan yang masuk surga tanpa hisab)." (HR
al-Bukhari: 5811)
5. Syafa'at
beliau untuk kaum yang berhak masuk neraka untuk tidak memasukinya. Hal ini
sebagaimana terdapat dalam hadits Hudzaifah ibn al-Yaman رضي الله عنه yang panjang
dan di dalamnya ada pernyataan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم
mendo'akan umatnya yang melewati shirath: "Ya Allah, berilah keselamatan.
Maka sang hamba tadi lewat dalam keadaan merangkak dan ia pun akhirnya selamat
dari neraka walaupun harus terluka terlebih dahulu." (HR Muslim: 195)
6. Syafa'at
beliau untuk pelaku dosa besar dari kalangan kaum mukminin agar keluar dari
neraka. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
"Sesungguhnya Allah mengeluarkan suatu kaum dari neraka karena
syafa'at." (HR Muslim: 191). Syafa'at ini tidak khusus bagi Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
saja, tetapi juga bagi para nabi yang lain dan hamba-hamba shalih pilihan. Hal
ini menunjukkan bahwa pelaku dosa besar dari kalangan mukminin tidak kekal
dalam neraka, tidak seperti yang dipahami oleh Khawarij dan Mu'tazilah.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa syafa'at agung inilah yang dimaksud dengan al-maqamul mahmud (kedudukan terpuji) yang dijanjikan Allah untuk hamba pilihan-Nya yaitu Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم dan inilah yang selalu kita ucapkan dalam do'a kita selepas mendengar adzan:
وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ
"Dan berikanlah kepadanya (Nabi Muhammad) kedudukan
terpuji yang Engkau janjikan."
Dalam sebuah hadits yang panjang disebutkan bahwa
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Pada hari kiamat,
Allah akan mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga terakhir di
sebuah padang yang luas. Maka sebagian mereka berkata kepada yang lain:
'Tidakkah kalian merasakan apa yang sedang menimpa kita saat ini? Tidakkah
kalian berupaya untuk mencari seseorang yang bisa memberikan syafa'at kepada
kita semua?' Maka mereka pun mendatangi bapak mereka, Adam (عليه السلام), dan berkata kepadanya: 'Wahai
Adam, engkau bapak kami maka berikan syafa'at kepada kami, tidakkah engkau
melihat apa yang sedang kami alami?' Adam menjawab: 'Sesungguhnya saat ini
Rabbku sedang murka dengan kemurkaan yang belum perrtah terjadi sebelumnya dan
tidak akan pernah terjadi sesudahnya, Dia telah melarangku mendekati sebuah
pohon kemudian aku menerjang larangan-Nya, pergilah kepada selain aku!' Mereka
pun datang kepada Nuh (عليه السلام) dan berkata: 'Wahai Nuh, engkau
adalah rasul pertama kepada penduduk bumi, berikan syafa'at kepada kami di sisi
Rabbmu, tidakkah engkau melihat apa yang terjadi pada kami?' Nuh pun
mengemukakan udzurnya dan berkata: 'Sesungguhnya Allah sedang marah dengan
kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi
setelahnya, pergilah kepada selain aku!' Maka pergilah mereka kepada Ibrahim (عليه السلام) dan berkata: 'Wahai Ibrahim,
engkau adalah nabi Allah dan kekasih-Nya, tidak-kah engkau melihat apa yang
sedang kami alami saat ini?' Maka dijawablah dengan jawaban yang sama:
'Pergilah kepada selain aku, pergilah kepada Musa!' Maka pergilah mereka kepada
Musa (عليه السلام) dan berkata: 'Wahai Musa, engkau
adalah Rasul Allah, Allah memilihmu untuk menerima risalah-Nya dan untuk
menjadi orang yang diajak-Nya bicara, berikanlah syafa'at kepada kami di sisi
Rabbmu, tidakkah engkau melihat apa yang sedang menimpa kami?' Maka Musa (عليه السلام) pun menjawab dengan jawaban yang
sama dan mengemukakan udzurnya: 'Pergilah kepada selain aku, pergilah kepada
Isa.' Maka pergilah mereka kepada lsa (عليه السلام) dan berkata: 'Wahai Isa, engkau
adalah Rasul Allah dan Kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dan engkau
adalah ruh yang berasal dari-Nya, berikanlah syafa'at kepada kami di sisi
Rabbmu! Tidakkah engkau melihat apa yang sedang menimpa kami?' Isa pun menjawab
dengan jawaban yang sama dan berkata: 'Pergilah kepada Muhammad hamba yang
telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Maka pergilah
mereka kepadaku dan berkata: ‘Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah dan
penutup para nabi, telah diampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang,
berikanlah syafa'at kepada kami! Tidakkah engkau melihat apa yang sedang
menimpa kami?' Maka aku pun berdiri menuju ke bawah Arsy dan bersungkur sujud
kepada Rabbku, maka Dia pun menerimaku dan mengilhamkan kepadaku beberapa
kalimat pujian yang tidak pernah diilhamkan kepada seorang pun selainku.
Kemudian Dia berfirman: 'Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu! Mintalah, niscaya
akan diberikan apa yang kamu minta, dan berikanlah syafa'at niscaya akan
diperkenankan syafa'atmu."' (HR al-Bukhari: 3340 dan Muslim: 194)
[2]Al-Qaulul Mufid, Ibnul Utsalmin, 1/213.
[3]Al-Qaulul Mufid l/217; Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah fi Dhau'il Kitab was Sunnah, Dr. Sa'id ibn Musfir al-Qahthani hlm. 337.
[4]Syarh 'Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abil 'Izzi, hlm. 165-166; Fathul Majid, Abdurrahman ibn Hasan, hlm. 239; 'Aqidah Ahlussunnah fi Dhau'il Kitab was Sunnah hlm. 338.
