Sejarah Al Qur'an

 Al-Qur’an merupakan Kitab atau pedoman hidup bagi umat muslim di seluruh dunia. Allah berfirman, “Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya” (QS, 17:9) Allah SWT juga memerintahkan kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan mempelajari Al-Quran: “Tidaklah mereka memperhatikan isi Al-Quran, bahkan ataukah hati mereka tertutup” (QS 47:24).

sejarah al qur'an, al-quran merupakan satu kitab panduan hidup manusia dan referensi utama umat islam di samping sunnah rasulullah


 Al-Qur'an merupakan satu kitab panduan hidup manusia dan referensi utama umat Islam di samping sunnah Rasulullah. Membaca Al-Qur'an, menghayati dan mengamalkannya adalah satu ibadah Tapi sudahkah kita mengetahui bagaimana sejarah diturunkannya Al Quran? 

Pengertian Al-Qur’an

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa Al-Qur'an adalah bentuk kata benda infinitif (mashdar) dari kata qara`a (قرأ) yang bermakna membaca atau mengumpulkan.

Menurut terminologi Al-Qur'an adalah kitab suci yang berisi firman atau wahyu Allah ta'ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam sebagai mukjizat melalui perantara malaikat Jibril. Al-Qur'an terdiri atas 114 surat dan dibagi menjadi 30 bagian atau disebut juz. Jumlah ayat seluruhnya ada 6.666 buah.

Al-Qur'an adalah satu mukjizat yang Allah Subhanahu wa ta'ala turunkan untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad, dan untuk menunjukkan keberadaan Allah SWT dengan segala sifat-sifat kesempurnaanNya.

Periode Turunnya Al Quran

Al-Qur'an diturunkan melalui perantara malaikat Jibril yang menyampaikan langsung kepada Rasulullah SAW. Proses turunnya Al-Qur'an secara bertahap atau mutawatir selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Sebagian ulama membagi periode turunnya Al-Qur'an dalam dua periode. Periode Mekah sebelum hijrah, surat-surat yang turun pada waktu ini disebut (ayat-ayat makkiyyah) yang berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dengan jumlah 86 surat.

Kemudian, periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah hingga sebelum hijrah. Surat-surat yang turun pada waktu ini disebut (ayat-ayat madaniyyah), berlangsung selama 10 tahun dengan jumlah 28 surat.

Wahyu yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq ayat 1-5 bertempat di Gua Hira saat Nabi Muhammad SAW sedang menyendiri bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan dan sebelum Nabi hijrah sekitar tahun 610 M pada tanggal 6 Agustus.  

Adapun Wahyu terakhir yaitu surat Al-Maidah ayat 3 yang di turunkan di Jabal Rahmah pada saat Haji Wa'da bertepatan pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H atau 27 Oktober 632 M.

Sejarah pembukuan Al Quran dibagi ke dalam tiga fase, yaitu masa Rasulullah, masa khalifah Abu Bakar, dan masa Utsman bin Affan. Masa ketiga memiliki perkembangan masing-masing agar Al Quran semakin mudah dibaca dan didapatkan oleh umat Islam.

1. Pada Masa Rasulullah SAW 

Dengan keterbatasan tidak dapat membaca dan menulis. Ketika setiap Rasulullah SAW mendapatkan wahyu, beliau langsung menyampaikannya kepada para Sahabat. Beberapa Sahabat yang ditunjuk untuk menuliskan Al-Qur'an yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab.

Penulisan Al-Qur'an masih sangat sederhana dan berserakan di beberapa media seperti pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat Rasulullah SAW langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah diturunkan

Pada saat itu penulisan Al-Qur'an belum terkumpul menjadi satu mushaf, karena tidak ada faktor pendorong dalam mencatat Al-Qur'an mengingat Rasulullah SAW masih hidup dan para Sahabat juga menghafal. Alasan lain, karena Al-Qur'an turun secara berangsur atau bertahap.

2. Pada Masa Khalifah Abu Bakar

Pada masa khalifah Abu Bakar banyak sahabat Hafidz mati Syahid karena ikut serta dalam peperangan. Maka dari itu, Utsman bin Affan mulai risau dan pemikiran masa depan akan Al-Qur'an. Kemudian sedikit berdialog dengan Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan kembali Al-Qur'an.

Akhirnya, beliau meminta Zaid ibn Tsabit (salah satu mantan juru tulis Nabi Muhammad SAW). Untuk mengumpulkan kembali dan menuliskan agar Al-Qur'an menjadi lembaran yang dapat disatukan.Setelah Al-Qur'an menjadi satu mushaf yang tersusun rapi, kemudian mushaf tersebut disimpan oleh Abu Bakar hingga beliau wafat. Utsman bin Affan yang menjadi penerus mushaf hingga beliau wafat, sehingga ditemukan oleh anaknya yang bernama Hafshah binti Utsman bin Affan yang juga salah satu istri Nabi Muhammad SAW.

3. Pada Masa Utsman bin Affan

Meskipun teks Al-Qur'an diterima secara universal, orang-orang Arab dari berbagai bagian negara Islam membacanya sesuai dengan dialek mereka.  Ini menimbulkan dua masalah: pertama bahwa setiap orang menganggap dialek mereka benar yang menimbulkan perselisihan; dan kedua, dikhawatirkan jika ini terus berlanjut, tidak akan ada lagi versi Quran yang diterima secara universal.  Dari mengatasi masalah ini Hazrat Usman (R.A) meminta Hazrat Hafsa (R.A) untuk menyediakan kompilasi awal Quran sehingga lebih banyak salinan dapat dibuat darinya. Selain itu, Beliau juga membentuk panitia yang terdiri dari Hazrat Zain bin Haris (R.A) dan beberapa sahabat lainnya untuk memastikan bahwa mereka menyetujui pengucapan salinan asli dan menghasilkan lebih banyak versi salinan itu dengan cara yang sama.  Komisi menyiapkan teks yang sesuai dan kemudian beberapa salinan dibuat dan dikirim ke berbagai bagian negara Islam dengan instruksi bahwa hanya ini yang harus dianggap sebagai teks Al-Qur'an yang resmi dan otentik. Sejak hari itu Al-Qur'an tetap dalam bentuk aslinya yang utuh dan akan tetap seperti itu di masa depan dengan Rahmat dan Berkah Allah SWT.

 sumber, Wikipedia.org, Kedesa.id , Suaramuslim.net,viva.co.id
Baca Juga

Populer

Posisi Imam dan Makmum Sesuai Sunnah Rasulullah