HADITS ARBA'IN NAWAWIYAH (BAGIAN 3)
MUHYIDDIN YAHYA BIN SYARAF NAWAWI
1. bagian 1
2. bagian 2
Daftar isi
- 1 Hadits ke 28
- 2 Hadits ke 29
- 3 Hadits ke 30
- 4 Hadits ke 31
- 5 Hadits ke 32
- 6 Hadits ke 33
- 7 Hadits ke 34
- 8 Hadits ke 35
- 9 Hadits ke 36
- 10 Hadits ke 37
- 11 Hadits ke 38
- 12 Hadits ke 39
- 13 Hadits ke 40
- 14 Hadits ke 41
- 15 Hadits ke 42
Hadits ke 28
الحــديث الثامن والعشرون
HADITS KEDUA PULUH DELAPAN
عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ
رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً
وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ
اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدَّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ
بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ
عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ
يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي
وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا
بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
[رَوَاه
داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح]
Terjemah hadits:
Dari
Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam memberikan
kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami berlinang. Maka
kami berkata: Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka
berilah kami wasiat. Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda: “ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah
ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian
adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan
menyaksikan banyaknya perbedaan pendapat. Hendaklah kalian berpegang teguh
terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk,
gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari
perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat “ (Riwayat
Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : hasan shahih)
Pelajaran:
1. Bekas yang
mendalam dari nasehat Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam dalam jiwa para shahabat.
Hal tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ala.
2. Taqwa
merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim
lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat
di dalamnya maksiat.
3. Keharusan
untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin,
karena di dalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak
terjadi perbedaan dan perpecahan.
4. Hadits ini
menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya
terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
5. Larangan
untuk melakukan hal yang baru dalam agama (bid’ah) yang tidak memiliki landasan
dalam agama.
Tema hadits:
1. Anjuran
berwasiat menjelang kematian : 2 :180
2. Berpegang
teguh kepada sunnah Rasul dan menjauhi bid’ah : 59 : 7, 57 : 27
3. Patuh
kepada pimpinan :
Hadits ke 29
الحــديث التاسع والعشرون
HADITS KEDUAPULUH SEMBILAN
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ قَالَ : لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ ». ثُمَّ تَلاَ : { تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ } { حَتَّى إِذَا بَلَغَ } { يَعْمَلُوْنَ }
ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ». قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ.
قَالَ « رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ». ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ». قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ « كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ». فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ
Terjemah hadits:
Dari
Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata: Saya berkata: Ya
Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke
dalam syurga dan menjauhkan saya dari neraka, beliau bersabda, Engkau telah
bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka
yang dimudahkan Allah ta’ala: Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya
sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji.
Kemudian beliau (Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam) bersabda, Maukah
engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu syurga? Puasa adalah benteng, Sadaqah
akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan
shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau
membacakan ayat (yang artinya): “ Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya….”. Kemudian beliau bersabda, Maukah kalian aku bertahukan
pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya? aku menjawab: Mau ya
Nabi Allah. Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya
adalah Jihad. Kemudian beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan
sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu? saya
berkata: Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda, Jagalah
ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata, Ya Nabi Allah, apakah kita
akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan? beliau bersabda, Ah kamu ini,
adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka –atau sabda
beliau: diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan
mereka. (Riwayat Turmuzi dan dia berkata, Haditsnya hasan shahih)
Kandungan Hadist :
1. Perhatian
shahabat yang sangat besar untuk melakukan amal yang dapat memasukkan mereka ke
syurga.
2. Amal
perbuatan merupakan sebab masuk syurga jika Allah menerimanya dan hal ini tidak
bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam “Tidak masuk syurga setiap
kalian dengan amalnya”. Makna hadits tersebut adalah bahwa amal
dengan sendirinya tidak berhak memasukkan seseorang ke syurga selama Allah
belum menerimanya dengan karunia-Nya dan Rahmat-Nya.
3. Mentauhidkan
Allah dan menunaikan kewajiban adalah sebab masuknya seseorang ke dalam syurga.
4. Shalat
sunnah setelah shalat fardhu merupakan sebab kecintaan Allah ta’ala kepada
hambanya.
5. Bahaya
lisan dan perbuatannya akan dibalas dan bahwa dia mencampakkan seseorang ke
neraka karena ucapannya.
1. Hakekat
keselamatan; masuk syurga dan terhindar dari neraka : 3 : 185
2. Allah memudahkan
setiap upaya kebaikan: 2 : 185
3. Qiyamullail : 17 : 79
4. Keutamaan
Jihad : 61 : 11,
5. Menjaga
lisan : 50 : 18
Hadits ke 30
الحــديث الثلاثون
HADITS KETIGA PULUH
عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِي جُرْثُوْمِ بْنِ
نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ :
إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْداً
فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ
أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا. [حديث حسن رواه
الدارقطني وغيره] .
Dari
Abi Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiallahuanhu, dari
Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam
dia berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan
kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian mengabaikannya, dan telah menetapkan
batasan-batasannya janganlah kalian melampauinya, Dia telah mengharamkan segala
sesuatu, maka janganlah kalian melanggarnya, Dia mendiamkan sesuatu sebagai
kasih sayang terhadap kalian dan bukan karena lupa jangan kalian mencari-cari
tentangnya. (Hadits hasan riwayat
Daruquthni dan lainnya).
(Hadits ini dikatagorikan sebagai hadits dha’if [22]). Lihat Qowa’id wa Fawa’id Minal Arbain An Nawawiah, karangan Nazim Muhammad Sulthan, hal. 262. Lihat pula Misykatul Mashabih, takhrij Syekh Al Albani, hadits no. 197, juz 1. Lihat pula Jami’ Al Ulum wal Hikam, oleh Ibnu Rajab).
[22] Hadits dho’if adalah hadits yang lemah kedudukannya dan tidak dapat dijadikan sebagai dalil.
Hadits ke 31
الحــديث الحادي والثلاثون
HADITS KETIGA PULUH SATU
عَنْ أَبِي الْعَبَّاس سَهْل بِنْ سَعْد
السَّاعِدِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ
إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ : ازْهَدْ فِي
الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ
النَّاسُ . [حديث حسن رواه ابن ماجة وغيره
بأسانيد حسنة]
Terjemah
hadits :
Dari
Abu Abbas Sahl bin Sa’ad Assa’idi radhiallahuanhu dia berkata: Seseorang
mendatangi Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, maka beliau
berakata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku
kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda, Zuhudlah
terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang
ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia. (Hadits hasan riwayat
Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad hasan).
Kandungan Hadist:
1. Menuntut
kecukupan terhadap dunia adalah perkara wajib, sedang zuhud adalah tidak adanya
keter-gantungan dan terpusatnya perhatian terhadapnya.
2. Bersikap
qanaah terhadap rizki yang halal dan ridha terhadapnya serta bersikap ‘iffah
dari perbuatan haram dan hati-hati terhadap syubhat.
3. Jiwa yang
merasa cukup dan iffah serta berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah
merupakan hakekat zuhud.
Tema-tema hadits :
1. Zuhud :
2. Menghindari
penyakit hasad (dengki) : 113: 5
Hadits ke 32
HADITS KETIGA PULUH DUA
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعَدْ بْنِ
سِنَانِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه
وسلَّمَ قَالَ : لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
[حَدِيْثٌ حَسَنٌ
رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالدَّارُقُطْنِي وَغَيْرُهُمَا مُسْنَداً، وَرَوَاهُ
مَالِك فِي الْمُوَطَّأ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ وَلَهُ
طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضاً]
Terjemah hadits :
Dari
Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri radhiallahuanhu, sesungguhnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh
melakukan perbuatan yang mencelakakan (mudharat)“ (Hadits hasan diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dan Daruqutni serta lainnya dengan cara musnad, juga
diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattha’ secara mursal dari Amr bin Yahya
dari bapaknya dari Rasulullah, dia tidak menyebutkan Abu Sa’id. Akan tetapi hadits
ini memiliki jalan-jalan yang saling menguatkan).
Kandungan Hadist:
1. Ajaran
Islam sangat mementingkan keselamatan pribadi dan orang lain.
2. Termasuk
sesuatu yang diharamkan adalah sesuatu yang berbahaya, seperti: rokok, narlotik
dll.
Tema hadits dan ayat Al Quran
yang terkait:
1. Larangan
mendatangkan kecelakaan: 2: 195
Hadits ke 33
الْحَدِيث الثالث والثلاثون
HADITS KETIGA PULUH TIGA
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم : لَوْ يُعْطَى النَّاسُ
بِدَعْوَاهُمْ، لاَدَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ، لَكِنَّ
الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ [حديث حسن رواه البيهقي وغيره هكذا،
وبعضه في الصحيحين]
Terjemah hadits:
Dari
Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, sesungguhnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam: Seandainya setiap pengaduan manusia diterima, niscaya
setiap orang akan mengadukan harta suatu kaum dan darah mereka, karena itu
(agar tidak terjadi hal tersebut) maka bagi pendakwa agar mendatangkan bukti
dan sumpah bagi yang mengingkarinya“ . (Hadits hasan riwayat Baihaqi dan
lainnya yang sebagiannya terdapat dalam As Shahihain)
1. Seorang
hakim harus meminta dari kedua orang yang bersengketa sesuatu yang dapat
menguatkan pengakuan mereka.
2. Seorang
hakim tidak boleh memutuskan sebuah perkara dengan menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal.
3. Pada
dasarnya seseorang bebas dari tuduhan hingga terbukti perbuatan jahatnya.
4. Seorang
hakim harus berusaha keras untuk mengetahui permasalahan sebenarnya dan
menjelaskan hukumnya berdasarkan apa yang tampak baginya.
5. Bersumpah
hanya diperbolehkan atas nama Allah.
Tema-tema hadits:
1. Hukum harus
ditegakkan : 4 : 65, 24 : 51
2. Penegakkan
hukum harus berdasarkan prinsip yang jelas : 24 : 4, 24 : 23
Hadits ke 34
الحديث الرابع والثلاثون
HADITS KETIGA PULUH EMPAT
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ
اْلإِيْمَانِ
[رواه مسلم]
Terjemah hadits :
Dari
Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu
berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi
wa sallam bersabda: Siapa yang
melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka
rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan
hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)
Kandungan Hadist:
1. Menentang
pelaku kebatilan dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam
ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.
2. Ridha
terhadap kemaksiatan termasuk di antara dosa-dosa besar.
3. Sabar
menanggung kesulitan dan amar ma’ruf nahi munkar.
4. Amal
merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya
keimanan.
5. Mengingkari
dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan
tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya.
Tema-tema hadits:
1. Keutamaan mengatasi kemunkaran: 5 : 78,
7 : 165
2. Realisasi iman : 2 : 278, 3 :
139,
3. Tingkatan iman : 8 : 2
Hadits ke 35
الحـديث الخامس والثلاثون
HADITS
KETIGA PULUH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ
تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى
بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو
الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ.
التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى
صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
– بِحَسَبِ
امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ
عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
[رواه مسلم]
Terjemah hadits:
Dari
Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Janganlah
kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan
hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang
lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah
saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya,
tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya
menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan
buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang
lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya “ (Riwayat Muslim).
Kandungan Hadist:
1. Larangan
untuk saling dengki.
2. Larangan
untuk berbuat keji dan menipu dalam urusan jual beli.
3. Diharamkan
untuk memutuskan hubungan terhadap muslim. Sebaliknya harus dijaga persaudaraan
dan hak-haknya karena Allah ta’ala.
4. Islam
bukan hanya aqidah dan ibadah saja, tetapi juga di dalamnya terdapat urusan
akhlak dan muamalah.
5. Hati
merupakan sumber rasa takut kepada Allah ta’ala.
6. Taqwa
merupakan barometer keutamaan dan timbangan seseorang.
7. Islam
memerangi semua akhlak tercela karena hal tersebut berpengaruh negatif dalam
masyarakat Islam.
Tema-tema hadits:
1. Menciptakan
pergaulan yang baik dan harmonis : 49 : 10
2. Realisasi
ukhuwah Islamiyah : 9 : 71
3. Barometer
kehidupan; Taqwa : 49 : 13
4. Dihormatinya
hak dan martabat seorang muslim:
Hadits ke 36
HADITS
KETIGA PULUH ENAM
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ
عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ
كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا
وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ
أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ
طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ
اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ
عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ
الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ فِي عَمَلِهِ
لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ. [متفق
عليه]
Terjemah hadits :
Dari
Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari
berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan
kesulitan-kesulitannya di Hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang
sedang kesulitann niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan
siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan
akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.
Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya
jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca
kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan
kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka
dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya.
Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.
(Muttafaq alaih).
Kandungan Hadist:
1. Siapa yang
membantu seorang muslim dalam menyelesaikan kesulitannya, maka akan dia
dapatkan pada hari kiamat sebagai tabungannya yang akan memudahkan kesulitannya
di hari yang sangat sulit tersebut.
2. Sesungguhnya
pembalasan disisi Allah ta’ala sesuai dengan jenis perbuatannya.
3. Berbuat
baik kepada makhluk merupan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala.
4. Meluruskan
niat dalam rangka mencari ilmu dan ikhlas di dalamnya agar tidak menggugurkan
pahala sehingga amal dan usahanya sia-sia.
5. Memohon
pertolongan kepada Alla ta’ala dan kemudahan dari-Nya, karena ketaatan tidak
akan terlaksana kecuali karena kemudahan dan kasih sayang-Nya.
6. Selalu
membaca Al Quran, memahaminya dan mengamalkannya.
7. Keutamaan
duduk di rumah Allah untuk mengkaji ilmu.
Tema-tema hadits:
1. Menumbuhkan
kepekaan sosial : 107 : 1-7, 70 : 24
2. Menjaga
nama baik seseorang : 49 : 11
3. Menumbuhkan
tradisi ilmiah : 96 : 1, 170 : 36.
4. Berinteraksi terhadap Al Quran: 73 : 4, 47 : 24, 33:36
Hadits ke 37
الحديث السابع والثلاثون
Hadits
ketiga puluh tujuh
عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ
رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ
ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً
كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ
حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا
كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا
كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً [رواه البخاري ومسلم في صحيحهما
بهذه الحروف]
Terjemah hadits:
Dari
Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha
Tinggi: Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian
menjelaskan hal tersebut: Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia
tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan
jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan
mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan
hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan
kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan
jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu
keburukan. (Riwayat Bukhari dan
Muslim dalam kedua shahihnya dengan redaksi ini).
Pelajaran:
1. Kasih
sayang Allah terhadap hamba-Nya yang beriman sangat luas dan ampunannya
menyeluruh sedang pemberian-Nya tidak terbatas.
2. Sesungguhnya
apa yang tidak kuasa oleh manusia, dia tidak diperhitungkan dan dipaksa
menunaikannya.
3. Allah
tidak menghitung keinginan hati dan kehendak perbuatan manusia kecuali jika
kemudian dibuktikan dengan amal perbuatan dan praktek.
4. Seorang
muslim hendaklah meniatkan perbuatan baik selalu dan membuktikannya, diharapkan
dengan begitu akan ditulis pahala dan ganjarannya dan dirinya telah siap untuk
melaksanakannya jika sebabnya telah tersedia.
5. Semakin
besar tingkat keikhlasan semakin berlipat-lipat pahala dan ganjaran.
Tema hadits:
Anjuran
berlomba-lomba untuk kebaikan: 2:148, 23 : 61
Hadits ke 38
الحديث الثامن والثلاثون
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى
قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ
إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ
يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا
أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ
بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا،
وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ
[رواه البخاري]
Terjemah hadits:
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu
berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhya
Allah ta’ala berfirman: Siapa yang memusushi wali-Ku maka telah Aku umumkan
perang terhadapnya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku
cintai kecuali beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku
yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah
diluar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya
maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya
yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan
kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan Aku
berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.“
(Riwayat Bukhari).
Pelajaran yang dapat diambil
dari hadits:
1. Besarnya
kedudukan seorang wali, karena dirinya diarahkan dan dibela oleh Allah ta’ala.
2. Perbuatan-Perbuatan
fardhu merupakan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah ta’ala.
3. Siapa yang
kontinyu melaksanakan amalan sunnah dan menghindar dari perbuatan maksiat maka
dia akan meraih kecintaan Allah ta’ala .
4. Jika Allah
ta’ala telah mencintai seseorang maka Dia akan mengabulkan doanya.
Tema-tema hadits:
1. Pemahaman yang benar tentang wali : 10 : 62-64
2. Keutamaan
ibadah nawafil (sunnah) : 35 : 32
3. Kekuatan
dari Allah :
Hadits ke 39
الحديث التاسع والثلاثون
HADITS KETIGA PULUH
SEMBILAN
عَنِ ابْنِ عَبَّاس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِيْ
عَنْ أُمَّتِي : الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ [حديث حسن رواه ابن
ماجة والبيهقي وغيرهما]
Terjemah hadits:
Dari
Ibnu Abbas radiallahuanhuma: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah ta’ala memafkan umatku
karena aku (disebabkan beberapa hal) : Kesalahan, lupa dan segala sesuatu yang
dipaksa “
(Hadits
hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi dan lainnya)
Kandungan Hadist:
1. Allah
ta’ala mengutamakan umat ini dengan menghilangkan berbagai kesulitan dan
memaafkan dosa kesalahan dan lupa.
2. Sesungguhnya
Allah ta’ala tidak menghukum seseorang kecuali jika dia sengaja berbuat maksiat
dan hatinya telah berniat untuk melakukan penyimpangan dan meninggalkan
kewajiban dengan sukarela.
3. Manfaat
adanya kewajiban adalah untuk mengetahui siapa yang ta’at dan siapa yang
membangkang.
4.
Tema-tema hadits:
1. Toleransi
hukum Islam : 22 : 78, 2 : 196
2. Manusiawi
dalam penerapan hukum : 64 : 16
Hadits ke 40
Hadits
keempat puluh
عَنْ
ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه
وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ
عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا
أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ
الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. [رواه البخاري]
Terjemah hadits:
Dari
Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda: "Hiduplah
engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara", Ibnu Umar
berkata: "Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika
kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk
(persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu." (Riwayat Bukhari).
Kandungan
hadits:
1.
Bersegera mengerjakan pekerjaan
baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak
tahu kapan datang ajalnya.
2.
Menggunakan berbagai kesempatan
dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
3.
Zuhud di dunia berarti tidak
bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk
kehidupan akhirat.
4.
Hati-hati dan khawatir terhadap
azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati
agar tidak tersesat.
5.
Waspada dari teman yang buruk
hingga tidak terhalang dari tujuannya.
6. Pekerjaan dunia dituntut untuk
menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan
semua itu untuk tujuan akhirat.
7.
Bersungguh-sungguh menjaga
waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal
shaleh.
8. Rasulullah memegang kedua
pundak Abdullah bin Umar, adalah agar dia memperhatikan apa yang akan beliau
sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian
gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu ke dalam jiwanya.
Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan
kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya
dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.
Tema-tema
hadits:
1.
Hakikat kehidupan: 3 :
185,
2.
Optimalisasi setiap kesempatan:
103 : 1-3, 94 : 7.
Hadits ke 41
الحديث الحادي والأربعون
Hadits keempat puluh SATU
عَنْ
أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ [حَديثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ وَرَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ
الْحُجَّة بإسنادٍ صحيحٍ ]
Dari
Abu Muhammad Abdillah bin Amr bin ‘Ash radhiallahuanhuma dia berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak beriman
salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa
“ (Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab Al Hujjah dengan sanad
yang shahih).
(Hadits
ini tergolong dha’if. Lihat Qawa’id Wa Fawa’id minal Arba’in An-Nawawiyah,
karangan Nazim Muhammad Sulthan hal. 355, Misykatul Mashabih takhrij
Syekh Al Albani, hadits no. 167, juz 1, Jami’ Al Ulum wal Hikam oleh Ibn
Rajab).
Hadits ke 42
الحديث الثاني والأربعون
HADITS
KEEMPAT PULUH DUA
عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه
وسلم يَقُوْلُ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي
وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ
آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّماَءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي
غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ اْلأَرْضِ
خَطاَياَ ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكْ بِي شَيْئاً لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا
مَغْفِرَةً [رواه الترمذي
وقال حديث حسن صحيح ]
Terjemah Hadits:
Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, Allah ta’ala berfirman: Wahai
anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka
akan aku ampuni engkau, aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya
dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit
kemudian engkau minta ampun kepadaku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak
Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi
kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan
Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “
(Riwayat
Turmuzi dan dia berkata: haditsnya hasan shahih).
Kandungan
Hadist:
1.
Berdoa diperintahkan dan
dijanjikan untuk dikabul-kan.
2.
Maaf Allah dan ampunannya lebih
luas dan lebih besar dari dosa seorang hamba jika dia minta ampun dan
bertaubat.
3.
Berbaik sangka kepada Allah
ta’ala, Dialah semata Yang Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat dan
istighfar.
4.
Tauhid adalah pokok ampunan dan
sebab satu-satunya untuk meraihnya.
5.
Membuka pintu harapan bagi ahli
maksiat untuk segera bertaubat dan menyesal betapapun banyak dosanya.
Tema-tema hadits:
1. Kemurahan
Allah ta’ala : 23 : 118, 6 : 133,
2. Tidak
putus asa untuk bertaubat : 39 :
53, 5 : 74, 3 : 135
Penerjemah: ABDULLAH HAIDHIR
