Tafsir Al Fatihah (Muhammad At Tamimi)

Penulis: Syaikh Muhammad At-Tamimi

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. 

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

Yang menguasai Hari Pembalasan. 

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. 

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

 صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

 

tafsir surah al fatihah oleh syaikh muhammad at tamimi, al fatihah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Dan dengannya kita meminta perlindungan.

Berkata Syaikh Muhammad At-Tamimi Rahimahullah dan semoga Allah meridhainya dengan kebaikan dan kedermawanan-Nya:

Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan petunjuk kepadamu untuk taat kepada-Nya, menjagamu dengan penjagaan-Nya, mengurusmu di dunia dan di akhirat, bahwa maksud dari ditegakkannya shalat, ruh dan intisarinya adalah hadirnya hati seorang hamba di hadapan Allah, ketika melaksanakannya, sehingga jika shalat itu dikerjakan tanpa hadirnya hati maka ia bagaikan jasad tanpa ruh. Hal ini sesuai dengan firman Allah : 

ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ   فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ

 “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,  yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5) 

Kata “lalai” dalam ayat ini ditafsirkan dengan lalai dari waktunya, yaitu menyia-nyiakannya, lalai dari kewajiban-kewajibannya dan lalai dari hadirnya hati ketika melaksanakannya. Hal tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah bersabda:

 تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

“Itulah shalatnya orang munafik, itulah shalatnya orang munafik, itulah shalatnya orang munafik, ia mengamat- amati matahari hingga apabila matahari telah berada di antara dua tanduk setan, ia melakukannya dan ia mematuk empat kali, ia tidak mengingat (berdzikir) kepada Allah dalam shalatnya melainkan hanya sedikit sekali.”

Rasulullah menyifatinya dengan menyia- nyiakan waktu dengan sabdanya: “Mengamat- amati matahari,” menyia-nyiakan rukun-rukun shalat dengan menyebutkan “mematuk”, dan menyia-nyiakan hadirnya hati dengan sabdanya: “Ia tidak mengingat (berdzikir) kepada Allah dalam shalatnya melainkan hanya sedikit sekali.” Jika Anda telah memahami hal tersebut maka pahamilah jenis lain dari pelaksanaan shalat, yaitu membaca surah al-Fatihah, semoga Allah menjadikan shalat yang Anda kerjakan sebagai shalat yang diterima, dilipatgandakan pahalanya dan sebagai pengampun atas dosa-dosa.

Hal terbaik bagi Anda untuk mengawali pembahasan dalam memahami surah al-Fatihah adalah hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, ia berkata:

 رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ:{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ اللَّهُ: مَجَّدَنِي عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ:{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ:{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Aku pernah mendengar Rasulullah ? bersabda: ‘Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku telah membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Jika hamba mengucapkan: ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,’ Allah Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika hamba mengucapkan: ‘Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,’ Allah Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika hamba mengucapkan: ‘Yang menguasai hari Pembalasan,’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku.’ Jika hamba berkata: ‘Hanya kapada-Mulah kami beribadah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan,’ Allah berfirman: ‘Inilah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Jika hamba berkata: ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang- orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat,’ Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’”

Jika seorang hamba merenungkan isi dari hadits ini dan ia mengetahui bahwa surah al- Fatihah itu ada dua bagian: satu bagian untuk Allah, yaitu ayat pertama hingga firman-Nya: “Hanya kepada-Mulah kami beribadah” dan satu bagian lagi mengandung doa yang dengannya seorang hamba berdoa untuk dirinya sendiri. Juga hamba itu merenungkan bahwa Dzat yang telah mengajarkan doa tersebut adalah Allah, dan Allah telah memerintahkannya untuk berdoa dengannya serta mengulang- ulangnya pada setiap rakaat, dan bahwa Allah melalui keutamaan dan kedermawanan-Nya memberikan jaminan dikabulkannya doa ini jika hamba berdoa kepada-Nya dengan ikhlas dan hati yang hadir, maka akan menjadi jelaslah apa yang disia-siakan oleh kebanyakan manusia.

Sungguh Dia telah mempersiapkanmu untuk satu perkara jika sekarang kamu mengerti Maka jagalah dirimu agar tidak menggembalakannya bersama unta siang dan malam Sementara kamu berada dalam kelalaian dari apa yang kamu diciptakan untuknya Dan kamu berada dalam keyakinan akan datangnya ajal secara mendadak Maka singkirkanlah dirimu dari apa-apa yang telah mengotorinya Dan pilihlah untuknya apa yang kamu anggap sebagai amalan yang paling ikhlas Apakah kamu berada dalam keadaan sekarat ataukah kamu sedang berhati-hati Ataukah kamu terperdaya oleh rasa aman ataukah terpalingkan dengan angan-angan 

Disini, aku (penulis) akan menyebutkan sebagian dari makna-makna yang terkandung dalam surah yang sangat agung ini, semoga Anda bisa melaksanakan shalat dengan hati yang hadir, dan hati Anda mampu mengetahui apa yang diucapkan oleh lisan Anda, karena sesungguhnya apa yang diucapkan oleh lisan sementara hati tidak memahaminya maka itu tidaklah termasuk amalan shalih, sebagaimana firman Allah :

يَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ

 “Mereka mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hati mereka.” (QS. Al-Fat'h: 11)

Aku (penulis) akan memulai dari makna isti’adzah, kemudian basmalah secara ringkas dan sederhana.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk”

Aku berlindung kepada Allah dan aku berpegang teguh kepada-Nya, dan aku meminta perlindungan melalui kemuliaan-Nya dari kejahatan musuh ini (syaithan) yang akan memberikan mudharat kepadaku dalam urusan agama dan duniaku, dan menghalangiku dari melaksanakan apa yang diperintahkan kepadaku, atau mengajakku untuk melakukan apa yang telah dilarang bagiku; karena sesungguhnya syaithan itu sangat bersungguh-sungguh dalam menggoda seorang hamba yang hendak melakukan amalan baik berupa shalat atau membaca al-Qur`an atapun amalan lainnya.

Yang demikian itu disebabkan karena Anda tidak memiliki kecerdikan atau muslihat dalam menolak (godaan syaithan) tersebut kecuali dengan meminta perlindungan kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya:

اِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ 

“Sesungguhnya dia (syaithan) dan pengikut- pengikutnya melihat kalian dari satu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27)

Sehingga apabila Anda memohon kepada Allah untuk melindungi Anda darinya, atau Anda berpegang teguh dengan-Nya, maka hal ini akan menjadi sebab hadirnya hati (dalam melaksanakan shalat), maka ketahuilah dengan baik makna yang terkandung dalam kalimat ini, dan janganlah sekali-kali Anda mengucapkannya hanya dengan lisan semata sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan manusia.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."

“Dengan menyebut nama Allah” maknanya adalah aku masuk dalam urusan ini, baik itu berupa membaca al-Qur`an, doa ataupun selainnya, (dengan menyebut nama Allah) bukan dengan daya dan kekuatanku, bahkan aku melakukan urusan ini dengan memohon pertolongan kepada Allah seraya mengharapkan berkah dengan nama-Nya Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Anda haruslah memulai semua urusan dengan mengucapkan basmalah (baik itu dalam urusan agama maupun urusan dunia), sehingga jika Anda telah menghadirkannya dalam hati, maka amalan yang anda mulai dengan basmalah seperti membaca al-Qur`an, meminta pertolongan kepada-Nya, berlepas diri dari kekuatan dan perkataan, maka itu akan menjadi faktor (sebab) yang paling besar hadirnya hati, dan menjauhkan berbagai rintangan dari segala bentuk kebaikan. 

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

“Yang Maha Pemurah lagi MahaPenyayang”

Adalah dua nama yang merupakan kata jadian (berasal) dari kata  ارحمة. Salah satunya memiliki makna yang lebih dalam dari yang lainnya, seperti kata al 'allamu  dan العليم, keduanya memiliki makna yang sama, yaitu Yang Mahatahu, akan tetapi makna al allamu  lebih  mendalam.  Ibnu  ‘Abbas  RA berkata: “Ar-Rahman dan ar-Rahim adalah dua nama yang begitu halus, salah satunya lebih halus dari yang lainnya, maksudnya adalah lebih banyak mengandung rahmat (belas kasih).”

Adapun surah al-Fatihah, maka ia terdiri dari tujuh ayat, setengahnya untuk Allah dan setengahnya lagi untuk hamba.

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ 

"Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam."

Awal surah yang dimulai dari firman Allah Ta’ala: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ  maka ketahuilah bahwa pujian adalah sanjungan dengan lisan terhadap al-jamil al-ikhtiyari, sehingga keluarlah sanjungan dengan perbuatan dari perkataannya, sanjungan dengan lisan yang disebut dengan lisaanul haal, dan itu termasuk salah satu bentuk syukur. Dan maksud dari al-jamil al- ikhtiyari adalah apa yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan kemauannya sendiri, sedangkan al- jamil yang tidak ada penciptanya seperti al-jamal (keindahan) dan sejenisnya, maka sanjungan terhadapnya disebut pujian, bukan syukur. Dan perbedaan antara syukur dan terima kasih bahwa syukur mengandung pujian dan sanjungan terhadap siapa yang dipuji dengan menyebutkan kebaikan-kebaikannya, baik itu sebagai bentuk kebajikan terhadap orang yang memuji ataupun tidak, sementara terima kasih tidak akan terealisasi kecuali dengan adanya kebaikan dari apa yang disyukuri. Sehingga dapat dipahami dari sisi ini bahwa syukur lebih umum dari terima kasih; karena syukur itu terealisasi dengan kebaikan- kebaikan kemurahan hati, maka sungguh Allah dipuji atas apa yang Dia miliki berupa al-Asma`ul Husna (nama-nama yang baik), dan apa yang telah Dia ciptakan di akhirat dan yang sekarang (permulaan). Oleh karena itu Allah berfirman:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا

 “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak.” (QS. Al-Isra`: 111)

Dan Allah juga berfirman:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ

“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.” (QS. Al-An’am: 1) Dan ayat-ayat lainnya.

Adapun terima kasih tidak akan terealisasi kecuali dengan pemberian, sehingga ia lebih khusus dari syukur dari sisi ini, akan tetapi ia terlaksana dengan hati, tangan dan lisan, oleh karena itu Allah berfirman:

اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا

“Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Allah.” (QS. Saba`: 13)

Dan pujian hanya akan terealisasi dengan hati dan lisan, sehingga dari sisi ini terima kasih lebih umun ditinjau dari segi jenis-jenisnya, dan pujian lebih umum ditinjau dari segi sebab-sebabnya.  Huruf alif dan lam pada firman Allah: اَلْحَمْدُ tujuannya adalah al-istighraq, maksudnya adalah memasukkan seluruh jenis pujian hanya untuk Allah, bukan kepada selain-Nya. Adapun yang tidak ada kaitannya dengan ciptaan makhluk, seperti penciptaan manusia, penciptaan pendengaran, penglihatan, hati dan penciptaan langit dan bumi, rizki dan lain sebagainya maka itu sudah jelas (hurus disyukuri). Adapun apa yang dipujikan untuk makhluk seperti apa yang disanjungkan bagi orang-orang shalih, para Malaikat dan Rasul, dan bagi siapa saja yang melakukan kebaikan, terlebih jika kebaikan itu ditujukan kepadamu, maka ini juga seluruhnya untuk Allah. Artinya, bahwa Allah-lah yang telah menciptakan (orang yang melakukan kebaikan itu) dan memberikan kepadanya apa yang telah ia lakukan, menjadikannya cinta kepada amalan itu dan menguatkannya dalam mengamalkannya, dan lain sebagainya dari kebaikan Allah yang sekiranya sebagiannya tidak ada belumlah dipuji Dzat yang dipuji itu, sehingga menjadilah pujian seluruhnya milik Allah ditinjau dari pertimbangan ini.

Firman Allah:

لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Bagi Allah, Rabb semesta alam.”

Maka Allah adalah lambang bagi Rabb Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, dan makna dari al- Ilah adalah yang disembah, sebagaimana firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ فِى السَّمَاۤءِ اِلٰهٌ وَّ فِى الْاَرْضِ اِلٰهٌ

“Dan Dia-lah Ilah di langit dan Ilah di bumi.” (QS. Az-Zukhruf: 84)

Maksudnya adalah Dzat yang disembah di langit dan Dzat yang disembah di bumi.

وَهُوَ الَّذِيْ فِى السَّمَاۤءِ اِلٰهٌ وَّ فِى الْاَرْضِ اِلٰهٌ

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)

Adapun  kata  الر ب,  maknanya  adalah raja (penguasa) yang bertindak, sedangkan  الْعٰلَمِيْنَ  maknanya adalah nama untuk segala sesuatu selain Allah, sehingga segala sesuatu selain Allah, baik itu Malaikat, Nabi, manusia, jin dan selainnya adalah makhluk yang diasuh dan dikendalikan, fakir, seluruhnya adalah makhluk yang membutuhkan dan menyandarkan diri kepada satu Dzat yang tidak ada sekutu bagi-Nya, yaitu Dzat Yang Mahakaya, yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

 “Yang menguasai Hari Pembalasan.”

Dalam qiraah lainnya Allah Ta’ala menyebutkan di awal surah ini yang merupakan permulaan dari mush`haf al-Qur`an tiga hal: Uluhiyah, Rububiyah dan al-Malik, sebagaimana Allah menyebutkannya di akhir surah dalam al-Qur`an, yaitu firman Allah:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

مَلِكِ النَّاسِ 

إِلَهِ النَّاسِ 

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai dan memelihara manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia.” (QS. An-Naas: 1-3)

Inilah tiga deskripsi (pensifatan) bagi Rabb yang Mahasuci lagi Mahatinggi yang Dia sebutkan secara berkelompok pada satu tempat, yaitu pada permulaan al-Qur`an, kemudian menyebutkannya kembali secara berkelompok pada satu tempat, yaitu pada akhir diketuknya pendengaranmu dari al-Qur`an. Maka hendak- nya bagi siapa saja yang ingin menasihati dirinya untuk memperhatikan tempat-tempat ini dan mengerahkan seluruh kemampuaannya dalam menelitinya, dan mengetahui bahwa Dzat Yang Maha Mengetahui tidak mengumpulkannya pada permulaan al-Qur`an, kemudian me- ngumpulkannya kembali di akhir al-Qur`an melainkan karena besarnya kebutuhan setiap hamba untuk mengetahuinya, dan mengetahui perbedaan antara sifat-sifat ini, karena setiap sifat memiliki makna khusus yang tidak dimiliki oleh sifat lainnya, sebagaimana dikatakan: “Muhammad adalah Rasul Allah, penutup para Nabi, penghulu anak cucu Adam,” maka setiap sifat yang disandarkan kepada beliau memiliki makna khusus yang tidak dimiliki oleh sifat lainnya.

Jika Anda telah mengetahui makna bahwa Allah adalah Ilah, dan Anda telah mengetahui bahwa Ilah adalah Dzat yang disembah, kemudian Anda berdoa kepada Allah atau menyembelih untuk-Nya atau bernadzar untuk- Nya, maka sungguh Anda telah mengetahui bahwa Dzat itu adalah Allah. Sekiranya Anda menyeru makhluk yang baik atau buruk, atau Anda menyembelih untuknya, atau Anda bernadzar untuknya, maka sungguh Anda telah menganggap bahwa makhluk itu adalah Allah, sehingga siapa yang telah mengetahui bahwa ia telah menjadikan Syamsan(*) atau Taaj sebagai

* Dia adalah Muhammad bin Syamsan, dahulu ia memiliki beberapa orang anak yang menyeru manusia agar mereka bernadzar kepadanya, dan agar mereka berkeyakinan bahwa ia memiliki perwalian dan syafa’at. Adapun Taaj, maka sebagian manusia pada masa itu berkeyakinan bahwa ia juga memiliki perwalian, dan manusia mendatanginya agar ditunaikan hajat kebutuhan mereka, dan Taaj adalah orang yang datang dari negeri al-Kharaj menuju ad-Dar’iyyah untuk menerima apa yang dikumpulkan baginya berupa nadzar-nadzar, dan para hakim juga takut kepadanya, orang-orang juga mengira bahwa ia adalah seorang yang buta dan ia datang dari satu negeri tanpa seorang pemimpin. Berbagai macam hikayat dan keyakinan yang menyebabkan mereka sesat dan menyimpang dari jalan yang lurus, dan semisal dengan Syamsan dan Taaj adalah Yusuf dan anak- anak dari Idris dan selain dari mereka. 

Nama-nama ini sangat banyak disebutkan dalam berbagai karya Syaikh Muhammad At-Tamimi.

 

Allah meskipun hanya sekejap dalam umurnya, maka dirinya akan mengetahui apa yang telah diketahui oleh Bani Israil ketika mereka menyembah anak sapi. Ketika perkara menjadi jelas bagi mereka, mereka pun menjadi takut dan berkata sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

وَلَمَّا سُقِطَ فِيْٓ اَيْدِيْهِمْ وَرَاَوْا اَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوْاۙ قَالُوْا لَىِٕنْ لَّمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatan mereka dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata: ‘Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi." (QS. Al-A’raf: 149)

Adapun الر ب  maknanya  adalah  raja  yang menguasai, sehingga Allah adalah Raja segala sesuatu dan menguasainya, dan ini adalah kebenaran, akan tetapi hal ini juga diakui oleh para penyembah patung yang telah dibunuh oleh Rasulullah, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah pada banyak tempat di dalam al-Qur`an seperti firman-Nya dalam surah Yunus:

 

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah,’ maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?’” (QS. Yunus: 31), Begitu pula dengan ayat setelahnya.

Siapa yang berdoa kepada Allah agar dimudahkan urusannya dan ditunaikan kebutuhannya kemudian berdoa kepada makhluk dalam masalah itu juga secara khusus, jika doanya kepada makhluk itu bergandengan dengan penisbatan dirinya kepada penghambaannya seperti perkataannya dalam berdoa: ‘Fulan hambamu,’ atau perkataannya: ‘Hamba Ali,’ atau: ‘Hamba Nabi,’ atau: ‘Hamba Zubair,’ maka sungguh ia telah menetapkan Rububiyah (ketuhanan) bagi makhluk itu. Dan dalam doanya hamba ‘Ali, Zubair atau selain dari keduanya dengan doa kepada Allah dan pengakuan ketuhanannya kepada Allah agar mendatangkan kepadanya kebaikan, atau memalingkan darinya keburukan bersama dengan penamaan dirinya sebagai hamba bagi-Nya, maka sungguh ia telah menetapkan Rububiyah bagi makhluk, dan tidak menetapkan Rububiyah bagi Allah bahwa Dia adalah Rabb (Penguasa) alam semesta seluruhnya. Bahkan ia telah ingkar terhadap sebagian Rububiyah Allah. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada hamba yang senantiasa menasihati dirinya, dan memahami dengan baik perkara-perkara penting ini, dan bertanya tentang perkataan ulama yang mana mereka adalah pemilik shirathal mustaqim (jalan yang lurus), apakah mereka menafsirkan surah seperti ini ataukah tidak?

Adapun kata مٰلِكِ  akan disebutkan penafsirannya insya Allah, karena firman مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِdan  dalam  qira`ah  lainnya: مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ   memiliki makna  menurut semua ahli tafsir adalah apa yang ditafsirkan oleh Allah dalam firman-Nya: 

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّ

“Tahukah kamu apakah hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari Pembalasan itu? Yaitu hari ketika seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 17-19)

Sehingga siapa yang mengetahui tafsir dari ayat-ayat ini dan mengetahui pengkhususan al- Malik (yang menguasai) hari Pembalasan itu, padahal Allah adalah Raja (Penguasa) segala sesuatu, hari Pembalasan itu dan selainnya, akan mengetahui pengkhususan pada masalah yang besar ini yang disebabkan karena pengetahuan terhadapnya akan masuk surga siapa yang berhak untuk memasukinya, dan disebabkan karena kejahilan akan masuk neraka siapa yang berhak untuk memasukinya. Sungguh masalah yang sangat besar! Jika sekiranya seseorang melakukan perjalanan lebih dari dua puluh tahun untuk mengetahui permasalahan ini maka ia belum bisa menyempurnakan haknya, maka di manakah makna ini dan iman kepadanya, beriman kepada apa yang dijelaskan secara gamblang oleh al-Qur`an, disertai dengan sabda Nabi :

 يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Fathimah binti Muhammad, aku tidak mampu menolongmu sedikit pun dari Allah.”

Yang berasal dari perkataan pemilik burdah :

Dan tidak akan berkurang derajat Rasulullah karena diriku

jika Yang Maha Pemurah bersifat dengan nama Dzat penyiksa

Sungguh aku memiliki perjanjian darinya dengan penamaanku

Muhammad dan ia adalah manusia yang paling menepati perjanjian

Jika sekiranya di akhirat Nabi tidak ulurkan tangan untuk menolongku

sebagai bentuk keutamaan, maka sampaikanlah kata wahai orang yang tergelincir kakinya

Hendaknya orang yang menasihati dirinya merenungkan dengan baik bait-bait sya’ir ini disertai dengan makna-maknanya, dan siapa yang terpikat dengannya dari kalangan hamba, dan ada sebagian yang menganggap bahwa dirinya adalah ulama, lalu memilih untuk membacanya daripada membaca al-Qur`an.

Apakah bisa terkumpul pada hati seorang hamba pembenaran terhadap bait-bait sya’ir ini dan pembenaran terhadap firman Allah:

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّ

 “Yaitu hari ketika seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar: 19)

Juga sabda Nabi :             ?

يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِى مَا شِئْتِ مِنْ مَالِى لاَ أُغْنِى عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai Fathimah binti Muhammad aku tidak mampu menolongmu sedikitpun dari Allah ”

Tidak, demi Allah, tidak demi Allah, tidak demi Allah, kecuali sebagaimana berkumpul pada hatinya bahwa Musa itu benar, Fir’aun itu benar, Muhammad berada di atas kebenaran, dan Abu Jahal berada di atas kebenaran.

>

Demi Allah tidak akan pernah sama dan tidak akan bertemu. Hingga menjadi beruban (tua) pemisah dua tepi dunia

Siapa yang mengetahui permasalahan ini dan juga mengetahui burdah, dan siapa yang terpikat dengannya maka akan mengetahui keasingan Islam dan mengetahui bahwa permusuhan dan penghalalan darah, harta dan perempuan kita, bukan pada pengkafiran dan perang, akan tetapi merekalah yang memulai pengkafiran dan perang, bahkan pada firman Allah:

فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًاۖ

 “... Maka janganlah kalian menyembah seorang pun di dalamnya di samping menyembah Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)

Dan pada firman Allah:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).” (QS. Al-Isra`: 57)

Dan firman Allah:

لَهٗ دَعْوَةُ الْحَقِّۗ وَالَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ لَا يَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar, dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenalkan sesuatu pun bagi mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 14)

Inilah sebagian makna yang terkandung dalam firman Allah: “Yang menguasai hari Pembalasan” menurut ijma’ (kesepakatan) ahli tafsir, dan juga Allah telah menafsirkannya dalam satu surah al-Qur`an:

اِذَا السَّمَآءُ انْفَطَرَتۡ

“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar: 1)

 

Sebagaimana telah aku (penulis) sebutkan untuk Anda.

Ketahuilah, semoga Allah memberikan petunjuk kepadamu untuk taat kepada-Nya, bahwa kebenaran itu tidak akan menjadi jelas kecuali dengan adanya kebathilan, sebagaimana dikatakan: “Dan dengan lawannya maka segala sesuatu menjadi jelas.”

Renungkanlah apa yang telah aku sebutkan untuk Anda jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, agar kiranya Anda mampu mengetahui agama bapak kalian Ibrahim, dan agama Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, sehingga anda dibangkitkan (pada hari Kiamat) bersama keduanya. Janganlah Anda berpaling dari kebenaran sehingga Anda terpalingkan dari haudh (telaga Nabi ?) pada hari Kiamat kelak, seperti terpalingnya orang yang berpaling dari jalan keduanya (Nabi Ibrahim dan Muhammad). Dan semoga Anda mampu melintasi ashshirath (jembatan) pada hari Kiamat, dan Anda tidak tergelincir darinya, seperti tergelincirnya orang yang tergelincir dari jalan keduanya yang lurus di dunia. Maka hendaknya Anda konsisten dalam berdoa dengan al-Fatihah dengan hati yang hadir, takut dan penuh kerendahan diri.

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

 “Hanya kepada-Mulah yang kami beribadah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.”

Ibadah adalah cinta yang sempurna, ketundukan yang sempurna, khauf (takut) dan merendahkan diri. Dalam ayat ini penderita (objek) didahulukan, yaitu “hanya kepada-Mulah” dan penyebutannya terulang untuk diperhatikan dengan seksama dan juga pembatasan, maksudnya adalah kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu, dan kami tidak bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu, inilah kesempurnaan satu ketaatan.

Dan seluruh perkara dalam agama (Islam) ini kembali kepada dua makna ini, yang pertama pelepasan diri dari kesyirikan, dan yang kedua berlepas diri dari daya dan kekuatan, sehingga firman Allah: “Hanya kepada-Mulah kami beribadah,” maksudnya adalah hanya Engkau-lah yang kami esakan (tauhidkan), dan maknanya adalah Anda mengikat janji dengan Rabb Anda bahwa Anda tidak akan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada- Nya, tidak dengan Malaikat yang didekatkan, tidak pula dengan Nabi yang diutus dan tidak pula dengan selain dari keduanya, sebagaimana firman Allah kepada para Shahabat:

وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا ۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Dan tidak wajar pula baginya menyuruh kalian menjadikan Malaikat dan para Nabi sebagai Rabb. Apakah patut dia menyuruh kalian berbuat kekafiran di waktu kalian sudah menganut agama Islam?” (QS. Ali ‘Imran: 80)

Maka renungkanlah ayat ini, dan ketahuilah apa yang telah aku (penulis) sebutkan bagi Anda pada permasalahan Rububiyah, bahwa itulah yang Anda sematkan kepada Taaj dan Muhammad bin Syamsan. Maka jika sekiranya para Shahabat kafir apabila melakukannya bersama kehadiran para Rasul bersama mereka, maka bagaimana dengan orang yang melakukannya bersama Taaj dan semisalnya?

Firman Allah:

وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.”  Ayat ini mengandung dua perkara penting:

Pertama: Permintaan pertolongan kepada Allah, yaitu tawakkal dan berlepas diri dari daya dan kekuatan.

Kedua: Permintaan pertolongan dari Allah sebagaimana yang telah disebutkan bahwa ia adalah setengah dari bagian hamba.

 

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Ini adalah doa yang sangat jelas yang merupakan bagian seorang hamba dari Allah, yaitu memohon dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri kepada-Nya agar menga- runiakan kepadanya permintaan agung ini, dan tidak ada permintaan yang lebih baik diberikan kepada seseorang di dunia dan di akhirat, sebagaimana Allah menganugerahkan kepada Rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam setelah Fat`hu Makkah

dengan firman-Nya:

وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ

“Dan membimbingmu ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Fat`h: 2)

Dan hidayah yang dimaksud dalam ayat ini adalah hidayah taufiq dan bimbingan. Maka hendaknya seorang hamba merenungkan kebu- tuhannya terhadap permasalahan ini, karena sesungguhnya hidayah kepada (jalan yang lurus) mengandung ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang dikerjakan dengan konsisten dan sempurna hingga bertemu dengan Allah.

Kata الص اط  artinya jalan yang jelas, sementara kata   الْمُسْتَـقِيْمَ   adalah jalan yang tidak ada kebengkokan padanya. Dan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada RasulNya Muhammad ?, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, dan mereka adalah Rasulullah

dan para Shahabatnya, dan Anda senantiasa memohon kepada-Nya di setiap rakaat shalat agar memberikan hidayah kepada Anda menuju jalan mereka. Dan Anda harus membenarkan Allah bahwa kewajiban-kewajiban itu adalah jalan yang lurus, dan setiap kali menyimpang darinya, baik itu jalan, ilmu, maupun ibadah, maka itu bukanlah jalan yang lurus, tetapi jalan yang bengkok, dan inilah kewajiban pertama dalam ayat ini, hendaknya juga diyakini dalam hati. Seorang mukmin harus berhati-hati dari godaan syaithan dan meyakininya dengan keyakinan yang mujmal (ikhtishar) serta meninggalkannya secara keseluruhan, karena sesungguhnya kebanyakan manusia dari kalangan orang-orang yang murtad berkeyakinan bahwa Rasulullah berada di atas kebenaran, dan apa yang menyelisihinya adalah kebathilan, sehingga jika Nabi Muhammad datang dengan membawa apa-apa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, sebagaimana firman Allah:

فَرِيْقًا كَذَّبُوْا وَفَرِيْقًا يَّقْتُلُوْنَ

“Sebagian dari Rasul-Rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.” (QS. Al-Ma`idah: 70)

غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡ

 “Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”

 

Orang-orang yang dimurkai adalah orang- orang berpengatahuan tetapi tidak beramal dengan ilmu yang mereka miliki, dan orang- orang yang sesat adalah mereka yang beramal tanpa didasari dengan ilmu pengetahuan. Sehingga golongan pertama merupakan sifat orang yahudi, dan yang kedua adalah sifat orang nashrani. Kebanyakan orang, jika ia mengamati pada tafsir bahwa orang Yahudi adalah golongan yang dimurkai, sementara orang nashrani adalah golongan yang sesat, orang jahil (yang tidak memiliki pengetahuan) mengira bahwa sifat itu dikhususkan hanya untuk mereka, dan ia mengakui bahwa Rabb-nyalah yang mewajibkan agar ia berdoa dengan doa ini dan meminta perlindungan dari jalan para pemilik sifat-sifat ini. Mahasuci Allah, bagaimana mungkin Allah mengajarkannya, memilihkan untuknya dan mewajibkan baginya untuk senantiasa berdoa dengannya secara konsisten sementara tidak jaminan bahwa ia akan melakukan perbuatan (seperti itu), dan tidak terbayangkan bahwa ia melakukannya, ini merupakan persangkaan buruk terhadap Allah, wallahu a’lam.

 

Inilah akhir dari tafsir surat al-Fatihah.

Adapun ucapan “amin” maka ia bukanlah bagian dari surah al-Fatihah, akan tetapi ia adalah pengaminan terhadap doa yang maknanya adalah “Ya Allah, kabulkanlah,” sehingga yang menjadi kewajiban adalah mengajarkan kepada orang yang tidak tahu agar ia tidak mengira bahwa ucapan “amin” bukan merupakan Kalamullah, wallahu a’lam.

 

Ijtihad Syaikh Muhammad At-Tamimi 

Inilah beberapa hal yang lahir dari ijtihad Syaikh Muhammad At-Tamimi :

 

1. Terdapat hal tauhid dalam firman Allah: “Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan.”

2. Terdapat mutaba’ah (pengawasan) dalam firman Allah: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

3. Rukun-rukun agama yaitu al-hubbu (cinta), raja` (pengharapan) dan khauf (takut). Cinta itu terdapat pada ayat pertama, raja` pada ayat kedua, dan khauf pada ayat ketiga.

4. Kebinasaan kebanyakan manusia dalam kejahilan yang tergambar pada ayat pertama, maksudnya adalah menyeluruhnya pujian dan menyeluruhnya ketuhanan Rabb Penguasa semesta alam.

5. Kelompok pertama yang mendapatkan nikmat, dan kelompok pertama yang menda- patkan laknat dan orang-orang sesat.

6. Tampaknya sifat kedermawanan dan pujian dalam penyebutan Dzat yang memberikan nikmat kepada mereka.

7. Tampaknya kemampuan dan keagungan dalam penyebutan kelompok yang mendapat- kan laknat dan kelompok yang sesat.

8. Mustajabnya doa dengan al-Fatihah, akan tetapi doa tidak akan dikabulkan jika berasal dari hati yang lalai.

9. Firman Allah: “Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” mengandung bukti akan benarnya ijma’.

10. Kebinasaan manusia jika menyandarkan urusan kepada dirinya sendiri.

11. Mengandung perkataan yang jelas tentang tawakkal.

12. Mengandung peringatan akan kebathilan syirik.

13. Mengandung peringatan akan kebathilan bid’ah.

14. Jika sekiranya ayat-ayat dalam surat al-Fatihah itu diketahui dengan baik oleh seorang muslim, niscaya ia akan menjadi faqih (faham dalam urusan agama), dan setiap ayat bisa dituangkan dalam satu karya tulis tersendiri.

Demikianlah tafsir al fatihah oleh Syaikh Muhammad At Tamimi, semoga bermanfaat.


Penerjemah & Penyunting: DR. Muhammad Dahri, Lc. MA.


Baca Juga

Populer

Posisi Imam dan Makmum Sesuai Sunnah Rasulullah